About Me

Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia
Aku kuliahnya di UKSW Fakultas Teknologi dan Informatika, ngambil Progdi TI. Pengen tau lebih tentang saya... Kontak aja di Chris_tian91@ymail.com.. okok ;)

Selasa, 30 November 2010

DBL Manado


 
PADAT: Suasana Hall B W.R. Mongisidi, Manado, saat seremoni menjelang laga final Honda DBL Manado Post 2009.
Gedung Terburuk Penonton Terbanyak
Honda DBL Manado Salip Rekor Palembang
MANADO - Salut buat penggemar basket di Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara. Meski mungkin memiliki gedung terburuk di Indonesia, jumlah penonton mampu memecahkan rekor terbanyak.
Kemarin, hampir 3.000 penonton bergantian memadati Hall B W.R. Mongisidi KONI Manado, menyaksikan final Honda DetEksi Basketball League (DBL) Manado Post 2009. Yang dimaksud padat itu benar-benar padat, mengisi semua celah tangga dan pintu masuk di dalam gedung!
Berarti, selama delapan hari pertandingan sejak 20 Februari lalu, total penonton menembus 21 ribu orang. Sedikit lebih banyak dari total penonton Honda DBL 2009 di Palembang, yang mencapai 20.309 orang.
"Sejak DBL mengembangkan diri ke berbagai wilayah di Indonesia pada 2008 lalu, jumlah di Manado ini jadi yang terbanyak. Hanya Surabaya, tempat DBL berpusat, yang memiliki penonton lebih besar," kata Azrul Ananda, commissioner DBL.
Azrul menjelaskan, tahun lalu, lebih dari 100 ribu orang menyaksikan Honda DBL 2008 di Jawa Timur, dalam 28 hari pertandingan. Kemarin, ribuan penonton sudah berbondong-bondong datang ke gedung pertandingan. Kebanyakan suporter SMA Eben Haezar Manado, yang meloloskan tim putra dan putrinya ke final. Satu setengah jam sebelum tipoff, para pendukung "Benzar" sudah memenuhi salah satu sisi tribun Hall B W.R. Mongisidi.
Karena kapasitas gedung tak sampai 1.500 orang, maka banyak sekali penonton yang harus rela menunggu di luar gedung. Bila suporter Benzar "menetap" di dalam gedung, maka dua lawan mereka harus bergantian mengisi sisi tribun yang lain. Pertama pendukung tim putri SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon, lalu pendukung tim putra SMA Katolik Theodorus Kotamobagu.
Ratusan �mungkin sampai 500 orang-- penonton datang berombongan dari Kotamobagu. Dari sekolah saja 150 orang. Padahal, jaraknya bisa lebih dari tiga jam perjalanan darat dari Manado!
"Kami berangkat dari Kotamobagu pukul 8 pagi tadi. Dari anak SMP dan SMA Yayasan Katolik Theodorus ada 150 orang, dapat izin khusus untuk jadi suporter," ungkap Suster Dionisia, kepala sekolah SMA Katolik Theodorus Kotamobagu. "Sejak tahun lalu, tim dan guru sudah mengumpulkan dana untuk mengirim tim ke Manado. Basket memang sudah jadi agenda rutin sekolah kami," tambahnya.
Upaya Kotamobagu ini tidak sia-sia. Tim putranya menjadi juara, menang 63 - 50. Tapi ribuan penonton Eben Haezar juga tidak kecewa. Tim putrinya mampu mempertahankan gelar dan menang 21-12.
Sebagai hadiah tambahan, pemain putra Eben Haezar, Marc Shaloom Laoh, terpilih sebagai Honda Most Valuable Player (MVP). Pendukung mereka juga mendapat penghargaan bergengsi, Supporter Award.
Menurut Elvi Sugiarto, kepala sekolah Eben Haezar, hasil ini merupakan buah persiapan panjang. Dia mengaku sudah menyiapkan tim ini sejak Honda DBL tahun lalu berakhir.
"Sejak tahun lalu, kami rutin menggelar seleksi untuk persiapan DBL. Khusus suporter pun kami sudah menyiapkan sejak tahun lalu. Harapan kami, ajang ini juga mengangkat gengsi sekolah kami," ucapnya. Dengan hebohnya Honda DBL Manado Post 2009 ini, seharusnya masa depan basket di Manado bisa tumbuh pesat. Tapi, mengenai ini, panitia menahan ekspektasi.
"Antusiasme peserta dan penonton memang hebat, tapi tidak ditunjang dengan gedung yang memadai. Tidak ada gedung lain yang lebih besar di Manado. Kalau terus pakai gedung ini, maka jumlah penonton sudah maksimal. Apalagi kondisi lapangan dan fasilitas penunjangnya juga  di bawah standar," papar Azrul. "Masalahnya, tidak ada gedung lain di Manado yang layak," tambahnya.
Suhendro Boroma, wakil direktur dan pemimpin redaksi Manado Post, menceritakan bahwa pihaknya harus merenovasi Hall B W.R. Mongisidi ini setiap menjelang Honda DBL. Tahun lalu mengecat gedung, tahun ini memperbaiki lapangan kayu dan atap yang jebol kena badai. "Sudah ada lima gubernur sejak gedung ini dibangun," tukasnya.
Andai Manado punya gedung lebih baik, lanjut Azrul, maka kota ini berpeluang menjadi kota utama basket di Pulau Sulawesi. "Penonton di sini juga sangat menyenangkan. Tertib, tak pernah lelah bersorak dan menyanyi. Sayang, mereka harus melakukan itu di gedung yang mungkin terburuk di Indonesia," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar